Latest News
Powered by Blogger.
Saturday, March 5, 2016

Inilah 6 Komitmen Orangtua Yang Dibutuhkan Anak

Inilah 6 Komitmen Orangtua Yang Dibutuhkan Anak

JENDELA KELUARGA, ACEHBesmart.com - Menjadi orangtua tidak ada pendidikan formalnya. Tidak ada wisuda dan ijasahnya. Apapun dan bagaimanapun keadaan kita – baik dengan persiapan atau tanpa persiapan – peran dan fungsi menjadi orangtua harus dijalani. Terlebih di tengah kita telah hadir amanah dari Allah Swt, putra-putri yang sorot matanya menatap masa depan.

Yang dibutuhkan bukan sekedar teori parenting melainkan komitmen dan keteguhan sikap menjadi orangtua yang hebat. Orangtua yang optimis terhadap masa depan anak. Orangtua yang fokus pada bakat dan potensi anak. Orangtua yang bersyukur dan mensyukuri kekurangan dan kelebihan anak.

Berikut ini enam komitmen yang dibutuhkan anak dari orangtua. Kita bisa memulainya satu persatu hingga tercapai enam komitmen secara utuh.

1. Komitmen untuk memelihara positive feeling

Perasaan positif pertama kali dibangun dan ditujukan pada Allah. Tidak ada peristiwa sekecil apapun – daun yang gugur dari ranting, misalnya – yang terjadi tanpa memiliki makna dan hikmah. Allah pasti punya maksud. Rahman Rahim-Nya mengatasi semua sangka buruk kita kepada-Nya. Inilah sikap hati yang ikhlas: ikhlas terhadap perilaku anak yang kadang menguras emosi. Kunci bahagia adalah memelihara hati yang ikhlas. Hati yang selalu bersangka baik kepada Allah Swt. Total dan pasrah.

Seperti diriwayatkan Imam Ja’far dalam kitab Al-Bihar, “Apabila seorang hamba berkata, ‘Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah’ maka Allah menjawab, “Hai para malaikat-Ku, hamba-Ku telah berpasrah diri, maka bantulah dia, tolonglah dia dan sampaikan (penuhi) hajatnya.”

2. Komitmen untuk mencintai
Cinta adalah bahan bakunya. Mencintai adalah memproses bahan baku cinta untuk dipersembahkan kepada sesama. Maka, mencintai anak bahan bakunya adalah cinta itu sendiri. Menerima anak secara apa adanya, tanpa syarat. Mencintai tanpa syarat. Karena sikap mencintai akan selalu memberi – bukan menuntut balik. Mencintai itu memberdayakan, menumbuhkan pihak yang dicintai.

Karena itu, anak perlu merasa bahwa dirinya dicintai dan dihargai. Mencintai dan menghargai apa? Anak sebagai insan yang unik dan pasti berbeda dengan anak lainnya. Tidak membuat standarisasi prestasi, membandingkannya dengan anak atau sesama saudaranya, memojokkannya sebagai pecundang karena gagal memenuhi harapan kita. Menghindari semua sikap yang membunuh itu bagaimana caranya? Melihat dari sudut pandang anak adalah sikap berpikir orangtua yang mencintai anaknya.

3. Komitmen untuk selalu terhubung dengan anak

Komitmen ketiga ini bukan hanya berbicara via HP saat kita di luar kota. Bukan sekedar terhubung saat kita bersama anak menyelesaikan pekerjaan rumah. Bukan pula ketika anak bercerita kita mendengarkannya sambil ber-WA ria. Komitmen kita adalah menyediakan waktu sedikitnya lima belas menit untuk memeluk, mencium, bersenda gurau, bercanda bersamanya. Atau sepenuh cinta kita cium keningnya sebelum dia berangkat sekolah. Lima belas menit total hanya untuk anak. Tanpa gadget, tanpa televisi, tanpa browsing.

4. Komitmen untuk menjadi contoh dan teladan
 
Kita sepakat bahwa telah tertanam fitrah kebaikan di dalam jiwanya. Namun, pendidikan dan pola asuh yang keliru akan menindih potensi kebaikan itu. Ingin anak saat remaja dan dewasa berbicara secara santun? Sejak dini berbicaralah dengan cara yang santun dan lembut dengannya. Contoh dan teladan yang baik tidak cukup didengungkan dalam hati. Ia memerlukan tindakan nyata agar tertangkap mata anak-anak kita.

5. Komitmen untuk memahami apa yang dibutuhkan anak

Dibalik setiap perilaku anak pasti didorong oleh motif kebutuhan tertentu. Anak yang rewel dan merengek tiada henti disebabkan orangtuanya tidak peduli dengan kehadirannya, atau tidak segera merespon permintaannya, atau tidak segera mengatasi ketidaknyamanannya. Dalam khasanah budaya Jawa ada ungkapan niteni: meneliti dan mengingat setiap efek dari peristiwa tertentu. Komitmen kelima ini mendorong kita niteni perilaku anak untuk mengetahui motif kebutuhan atau dorongan dibalik tingkah lakunya.

6. Berkomitmen untuk membimbing daripada menghukum

Alih-alih memberi label ceroboh, pelupa, teledor mengapa kita tidak terlebih dahulu bersepakat dengan anak tentang aturan dan tata cara mengerjakan aktivitas tertentu? Komitmen untuk gemar berdiskusi, bermusyawarah, bertukar pendapat selain akan menuntun anak bagaimana cara berpikir dan menemukan solusi – komitmen keenam akan menjauhkan kita dari mata pandang yang peka melihat kekurangan anak.

Mudah memberi hukuman merupakan akibat dari kebiasaan suka melihat kesalahan. Sungguh tidak tepat menghukum dalam rangka membimbing. Bukan hukuman yang diperlukan melainkan konsekwensi: sebuah akibat yang telah disepakati sebelumnya untuk ditanggung anak ketika ia melanggar kesepakatan.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Inilah 6 Komitmen Orangtua Yang Dibutuhkan Anak Rating: 5 Reviewed By: T. Naganur TubeHD