Latest News
Powered by Blogger.
Tuesday, September 22, 2015

Menikah??? Kenapa Tidak ??!!

Menikah??? Kenapa Tidak ??!!

ACEHBesmart.com - HIKMAH dan RENUNGAN, “hari gini mau ngajak perempuan hidup susah? Sedangkan kedua orang tuanya udah susah payah menyejahterakan, memberi pendidikan, kehidupan yang terbaik. Jangan mimpi!”

Kutipan itu terus terngiang dalam benak Ghaitsa, antara ingin menertawakan—karena kalimatnya berani, menarik, dan multitafsir—namun juga sedikit membenarkan.

“Orang yang nulis kutipan itu pasti cukup idealis,” ujarnya.

“Kenapa memangnya?” bantah Irene, sahabat karib Ghaitsa.

“Iya, menetapkan standar lebih tinggi dari yang minimalis!”

“Bagus kan? Setiap wanita harusnya gitu,” tambah Irene.

“Tidak juga, di dunia ini pasti ada dua tipe manusia.”

“Oh, jadi kamu yang kontra? Alasannya?”

“Pengetahuan!” jawab Ghaitsa singkat.

Irene mungkin tidak sama dengan Ghaitsa, perbedaan jalur pendidikan yang ditempuh serta pengalaman hidup mereka, membuat kedua gadis 23 tahun ini punya persepsi tersendiri.

“Jadi? Coba jelaskan!” lanjut Irene.

“Kalau ekspektasi kita cuma fokus ke dunia, maka yang ada hanya ambisius tak terputus-putus!”

“Lalu?”

“Sebaliknya, kalau ke akhirat, pastinya bakal zuhud dong ….”

“Emang kamu mau nikah sama orang miskin, hidup susah?”

“Maaf, tidak mau menjawab,” balas Ghaitsa.

“Loh? Kenapa gak mau jawab, ciee munafik?”

“Nah, belum apa-apa udah fitnah, dan suudzon, dosa loh!”

“Maaf lahir batin ya. Terus apa coba? Ayo jelaskan!”

Ghaitsa memaparkan pemikirannya pada Irene. Di antara empat syarat seseorang dinikahi termasuk di dalamnya harta, namun itu bukanlah yang utama. Maka tidak ada alasan untuk takut menikah disebabkan kekurangan harta. Sebab jika sudah ada kesanggupan hidup berumahtangga, Allah sendiri yang akan mencukupi kebutuhan hidup mereka. Karena sejatinya rezeki itu datang dari Allah. Harta orang kaya pun milik Allah.

Ghaitsa menceritakan sebuah kisah tentang seorang pemuda mandiri, sukses, lalu melamar gadis yang berasal dari keluarga kaya. Setelah menikah, awalnya mereka menjalani kehidupan dengan baik. Kemudian tahun berlalu, sang suami mengalami kebangkrutan, mentalnya jatuh, tidak mampu bekerja, hingga anak dan istri ditelantarkan secara nafkah lahiriyah. Sekarang tak ada yang bisa dilakukan pemuda sukses itu selain tidur, dan makan. Namun sang istri harus bertahan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dan makan anak-anaknya, lalu terus mengupayakan meski dengan menjadi buruh cuci, tukang sapu, walaupun tadinya ia berasal dari keluarga yang kaya. Pada dasarnya semangat juang wanita lebih besar dibanding lelaki, sungguhpun secara harfiah si wanita lebih banyak ruginya.

“Pemuda itu sakit jiwa?” tanya Irene.

“Begitulah, sebenarnya itu juga bagian dari skenario-Nya.”

Memang tidak ada orang yang mau diajak hidup miskin, tapi tergantung siapa yang mengajak. Kalau dia fleksibel, dan bisa dipermak, kemungkinan untuk hidup sukses di masa depan ada. Tapi, jika si lelaki keras kepala; mementingkan ego sendiri, bahkan kalimat wanitanya suka dibantah tanpa pertimbangan, rasanya itu lebih buruk dari mimpi buruk sekalipun.

“Jadi, wanita mengatur lelaki? Bukankah lelaki itu pemimpin?”

“Nah, pertanyaan kamu itu … bisa menimbulkan perdebatan!”

“Lalu bagaimana?”

“Bukan mengatur, tapi melihat potensi yang ada pada lelaki.”

Setiap wanita menginginkan masa depan terbaik bagi anak-anaknya. Masa depan di sini bukan hanya tentang pendidikan tinggi, atau hidup kaya raya di dunia. Lebih baik lagi, yaitu penyejahteraan akhlak, penyempurna adab, penguasaan ilmu bermanfaat, kebaikan terus menerus, pengetahuan mendalam tentang penekanan hawa nafsu, zuhud di dunia, karena anak adalah investasi (teramat bernilai) untuk kita di Akhirat kelak.

“Tapi itu bertentangan dengan tugas perkembangan manusia menurut ilmu psikologi, ada masanya seseorang di luar kontrol, pubertas, dan hura-hura …” sanggah Irene.

“Bukan bertentangan, tapi sama. Yang membedakan pola asuh orang tua, karena berbeda pola asuh, berbeda pula sikap anak dalam menghadapi tugas perkembangan tahapan usianya.”

“Oke, masuk akal. Lalu bagaimana kelanjutan cerita si lelaki?”

Keutuhan sebuah keluarga itu terjadi ketika suami dan istri saling berkaitan; melengkapi satu sama lain. Berjalan seiringan, bukan melangkah duluan sedang yang lain jauh tertinggal di belakang. Sungguh menyesakkan, ketika seluruh hidup wanita didedikasikan untuk sang suami, namun ia tidak bisa diajak kompromi. Melepaskan tanggung jawab begitu saja, padahal wanitanya dulu rela meninggalkan lelaki yang seribu kali jauh lebih baik darinya demi hidup bersamanya. Ini terjadi pada para janda yang memutuskan untuk bercerai.

“Naudzubillah … ngeri dapat lelaki yang seperti itu!” tutur Irene.

“Iya, itu maksudnya yang gak bisa dipermak.”

“Levis emangnya dipermak?” Irene menggoda Ghaitsa.

“Pokoknya kamu mengerti, kan?”

“Oke.”

Zaman sekarang pun, wanita karir lebih mendominasi di dunia pekerjaan. Motifnya banyak, ada yang harus menafkahi keluarga, mencari pengalaman, dan mengumpulkan harta. Tapi, bukankah lebih baik lagi kalau wanita itu terpelihara; hanya bekerja di rumah, mengasuh, mendidik, membesarkan buah hati mereka. Faktanya justru lelaki yang dikenakan ‘kewajiban’ tersebut seakan berlepas tangan saja, bersikap acuh. Memang tidak semua lelaki seperti itu, tapi yang jelas pasti ada.

Untuk kita para gadis yang belum bertemu sang jodoh, jangan pernah phobia lagi dengan kutipan, “diajak susah.”

Namun, sebaiknya katakanlah ….

“Jika memang mau mengajakku hidup susah, syaratnya Anda harus sanggup pula bersusah payah menghadapiku. Karena, aku akan mempermak habis kebiasaanmu, serta hal-hal yang dirasa perlu, baru kita akan mengarungi hidup bersama dengan kepatuhan pada Tuhan Yang Maha Esa, bagaimana?”

“Waw, keren!” jawab Irene.

“Kalau ia menolak dengan alasan merasa diatur, tinggalkan!”

“Oh iya juga, kan kita lihat potensi bukan ngatur.”

“Cerdas!”

“Nikah? Why not?” tutur Irene menggoda Ghaitsa.

“Agreed. Lead a simple life at dunya, perfect life in Akhira.”

“Jazakillahu khairaan, atas ilmunya, Ghaitsa!”

[Sumber : Oleh : Ramadani Ann Al-Qohirohiyyah/Islampos]
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Menikah??? Kenapa Tidak ??!! Rating: 5 Reviewed By: T. Naganur TubeHD