Latest News
Powered by Blogger.
Wednesday, September 9, 2015

Diantara Sumbu Panjang dan Sumbu Pendek

Diantara Sumbu Panjang dan Sumbu Pendek
 
ACEHBemart.com - ISTILAH ‘Muslim sumbu pendek’ kemarin sempat ramai. Tapi harap diingat, sumbu panjang yang terlalu panjang juga tak kalah bahayanya. ‪Mari kita bahas satu persatu.

SumbuPendek‬, adalah yang mudah meledak hanya karena dipercik sedikit api. Sumbu pendek adalah mereka yang mudah sekali marah hanya karena berita hoax, tanpa verifikasi, tanpa tabayun. Pokoknya setiap kali ada isu yang dianggap menghina kelompoknya, atau menyinggung alirannya, amarahnya meledak-ledak. Cacimaki dan hinaan meluncur dengan semangat yang ia yakini membela kebenaran.

Sumbu pendek adalah yang melulu curiga atas karya orang lain di luar kelompoknya. Memuja muji kelompok sendiri dan saat kelompoknya dikritik ia muncul sebagai golongan antikritik. Fanatisme terhadap kelompok bahkan nampak seumpama membela agama.

Sumbu pendek mudah curiga. Bahkan saat Asma Nadia, penulis tenar itu, menulis sedikit kalimat berima-rima tentang keinginan wanita untuk tak dipoligami, mereka membuat satire menyinggung adik Helvy Tiana Rossa itu. Mereka, entah kenapa, adalah orang-orang yang tidak dikenal.

Asma dicela-cela sedemikian rupa karena dianggap tak terima sunnah. Tapi saat Ust.Tjahyadi Takariawan menulis buku ‘bahagia dengan satu istri’ mereka diam sebab penulis adalah orang yg mereka hormati. Herannya, pencela-pencela Asma minim karya. Ketimbang Asma yang karya-karyanya luar biasa. Sumbu pendek hanya melihat ‘siapa’, bukan melihat ‘apa’.

Sumbu pendek adalah mereka yang saat Teuku Wisnu khilaf tentang sampainya bacaan Fatihah pada orang yang sudah meninggal. Ramai-ramai mereka membully artis papan atas itu habis-habisan, sekalipun ia sudah berkali-kali menyampaikan maaf sebab ucapannya menyakiti sebagian umat.

Herannya, sumbu pendek ini diam saat tokoh mereka bicara Quran kitab porno, bicara waktu perjalanan haji perlu ditinjau ulang, atau bicara urusan haji habiskan anggaran.

Mereka lupa doakan Teuku Wisnu, dan lupa betapa luarbiasanya suami Shiren Sunkar itu atas kegigihannya meninggalkan popularitas demi keshalihan, di saat banyak orang yang nampak shalih justru mencari popularitas.

Sumbu pendek ada di kelompok manapun, mereka hanya melihat ‘siapa’, bukan melihat ‘apa’, Sumbu pendek adalah mereka yang lisannya tajam, lebih tajam daripada pedang. Saat al-Qardhawy berbeda pendapat dengan ulama mereka, hinaan terhadap Ketua Persatuan Ulama Dunia itu datang bertubi-tubi melampaui batas-batas adab.

Tapi saat Syaikh mereka berbeda pendapat atas satu dua hal mereka bisa berlapang dada. Akhirnya sesama mereka saling tahzir karena manhajnya tak siap menerima perbedaan, memaksa hal-hal yang furu’ seolah ushul.

Sumbu pendek memang mudah dibakar. Jika apinya dianggap menunjukkan kebodohan kelompok yg dianggap musuh. Jika kelompoknya disinggung walau sedikit, api berkobar menyala laksana perang.
Tapi adalagi sumbu panjang, terlalu panjang.

Mereka diam saat agama Islam dihina oleh orang lain dan selalu bilang: biarkan, ayo verifikasi dulu.

Mereka diam saat agama mulia ini dinistakan dengan dalih rahmatan lil ‘alamin, kearifan, dan kesabaran.

Mereka diam saat Al-Quran dibakar dan dilempar ke toilet dengan alasan jangan mudah diprovokasi, bahkan mereka tak berkomentar apa-apa selain itu. Sumbu panjang tak pernah marah jika Islam dihina.

Herannya saat sebagian kelompok Islam lakukan kesalahan kepada umat lain, secepat kilat mereka tuduhkan tudingan dan gelar bermacam-macam. Tanpa verifikasi, tanpa klarifikasi, tanpa tabayun. Pokoknya kalo kelompok itu di luar mereka dan menyinggung umat lain, sumbu mereka mendadak pendek.

Sumbu panjang dalam banyak hal nampak mencoba akrab dengan umat lain tapi mudah bermusuhan dengan saudara sendiri yang tak bersepaham, lalu mendaku paling arif. Paling rahmatan lil alamin. Paling anti kekerasan. Seraya menuding-nuding kelompok lain tak semulia mereka.

Sumbu panjang tak ada bedanya dengan sumbu pendek. Terlalu panjang juga membahayakan.

Saya khawatir suatu saat Islam dihinadina tapi satu orangpun tak tampil membelanya, sebab semua bersumbu panjang.

Aku khawatir saat Al-Quran diinjak-injak oleh pembencinya, tak satupun Muslim merasa tersinggung lantaran sumbunya terlalu panjang.

Aku khawatir saat Masjid demi Masjid dibakar tak ada seorang Muslim pun bicara lantang melawan, karena sumbu mereka panjang-panjang. Pendek dan panjang sama saja.

Saya kira sumbu memang jangan terlalu pendek, sebab kau bisa terbakar. Sumbu petasan juga jangan terlalu panjang. Sebab sumbu panjang sering menipu dan menjebak. Kau nyalakan, lalu kau biarkan lama-lama dalam genggaman, meledaklah akhirnya di tangan. Atau petasan itu kau nyalakan, lama tak meledak lalu kau tengok lagi, meledaklah di muka.

Mari jadi sumbu yang sedang-sedang, yang wasath, yang moderat. 

[Sumber : Oleh: Sigit Kamseno, Kontributor One Day One Juz]
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Diantara Sumbu Panjang dan Sumbu Pendek Rating: 5 Reviewed By: T. Naganur TubeHD